“Seseorang pun pergi dengan hitam kopi
yang tumpah. Seseorang pun lekas,
seseorang lelah”
—Goenawan Mohamad
“Seseorang pun pergi dengan hitam kopi
yang tumpah. Seseorang pun lekas,
seseorang lelah”
—Goenawan Mohamad

Barangkali hujan lama tak singgah di tanah ini. Sementara daun-daun terus menengadah bernantian. Kemudian berguguran.
Barangkali lelah adalah keseharian. Menunggu awan kelabu. Menantikan rintik itu.
Bagaimana kau bisa hadir, setidaknya dalam kenangan pada rinai hujan, sementara terik terus menghujam tanah.
Desember, 2011
“Never measure the height of mountain until you have reached the top. Then you will see how low it was.”
—Dag Hammarskjold

Aku berhutang padamu tentang kisah ini. Kisah yang biasanya seru ketika kita di sana, saling bertukar cerita, di sebuah kedai kopi. Ketika rintik mencipta dingin udara. Ketika hangat mengepul dari cangkir bersama aroma yang nyaru dengan basah bau tanah. Aku berhutang padamu tentang kisah ini. Kisah yang biasanya aku ceritakan di hiruk-pikuk kereta ekonomi. Atau di naik-turun kapal rakyat terhempas gelombang. Atau di langkah-langkah kaki menuju entah. Atau di sini, di tempatku kini, di belahan timur Indonesia. Tapi engkau dimana. September, 2011.